Zakat untuk Yatim | Mizan Amanah

Mutakhirkan

Zakat untuk Yatim

Hukum Zakat untuk Anak Yatim
Published by adminweb on Kam, 07/04/2019 - 10:50

Sebagaimana yang kita tahu Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap umat muslim.

Dalam Q.S At-Taubah, Allah telah menjelaskan tentang golongan yang berhak mendapatkan zakat ada 8 macam, yakni:
1. Fakir (orang yang tidak memiliki harta)
2. Miskin (orang yang penghasilannya tidak mencukupi)
3. Riqab (hamba sahaya atau budak)
4. Gharim (orang yang memiliki banyak hutang)
5. Mualaf (orang yang baru masuk Islam)
6. Fisabilillah (pejuang di jalan Allah)
7. Ibnu Sabil (musafir)
8. Amil zakat (panitia penerima dan pengelola dana zakat)

Adapun diluar golongan tersebut, pada faktanya ada sebagian masyarakat yang memberikan zakatnya kepada anak yatim. Padahal dalam keterangan diatas, anak yatim tidak termasuk golongan yang berhak menerima zakat. Lantas bagaimana dengan zakatnya, Apakah zakatnya sah?

Mari kita simak beberapa pendapat Ulama, seperti Imam Abu Bakar Al-Husaini Al-Hishni As-Syafi’i yang menerangkan dalam kitab Kifayatul Akhyar pada bab Zakat:

الصغير اذا لم يكن من ينفق عليه فقيل لا يعطى لاستفائه بما لليتامى من الغنيمة و الاصحّ انه يعطى فيدفع الى قيّمه

Anak (yatim) yang masih kecil tatkala tidak ada yang menafkahinya, maka sebagian pendapat mengatakan tidak diberi zakat sebab tercukupi dengan bagian anak yatim yang diperoleh dari ghanimah (harta rampasan dari orang kafir), namun menurut pendapat yang paling shohih, bahwa anak tersebut boleh diberi zakat dan disalurkan kepada pembinanya atau yang merawatnya.

dari pendapatnya tersebut, Imam Abu Bakar Al-Husaini menunjukkan kebolehan memberi zakat kepada anak yatim yang masih kecil dan tidak ada yang menafkahinya, dengan sebab anak tersebut termasuk golongan orang yang fakir atau miskin.

Meskipun ada sebagian pendapat yang mengatakan anak yatim tidak usah diberi zakat karena sudah mendapat bagian dari harta rampasan atau ghanimah, namun saat ini sudah tidak ada lagi harta rampasan perang yang dikelola oleh pemerintah. Maka berdasarkan pendapat diatas zakat yang diberi kepada anak yatim hukumnya adalah sah.

Sedangkan pendapat dari Imam Ibn Utsaimin yang pernah mengingatkan juga tentang kekeliruan di tengah masyarakat dengan memberikan zakat kepada anak yatim.

Ada satu catatan penting, sebagian orang beranggapan bahwa anak yatim memiliki hak zakat, apa pun keadaannya. Padahal tidak demikian. Karena kriteria anak yatim bukanlah termasuk salah satu yang berhak mengambil zakat. Tidak ada hak bagi anak yatim untuk menerima zakat, kecuali jika dia termasuk salah satu kriteria diantara 8 golongan penerima zakat. Adapun statusnya sebagai anak yatim, bisa jadi dia kaya dan tidak butuh zakat. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 18/353)

Lantas dari berbagai pendapat tersebut, bagaimana sikap kita dalam upaya untuk menyantuni anak yatim? dari kedua ulama tersebut kita dapat kesimpulan bahwa anak yatim berhak menerima santunan lain seperti infak atau sedekah, karena infak atau sedekah tidak memiliki aturan baku, sehingga jenis santunan infak atau sedekah ini dapat diberikan kepada anak yatim. Sedangkan zakat, karena memiliki aturan khusus diantaranya adalah aturan tentang penerima zakat sebaiknya tidak keluar dari aturan-aturan tersebut, adapun jika ingin tetap berzakat untuk anak yatim apapun alasannya, selama ia terpenuhi sebab-sebabnya seperti yang diterangkan Imam Abu Bakar Al-Husaini, maka sah-sah saja.

Allahu'alam bish shawab

Mari berbagi informasi yang insha Allah bermanfaat kepada rekan dan saudara kita. Semoga menjadi amal soleh yang membawa keberkahan untuk anda. klik tombol share di bawah ini.


Copyrights © 2019 All Rights Reserved by Mizan Amanah.