Cerita Kita

Published by Gunardi Indrawan on Sen, 10/30/2017 - 20:03

WAKAF DALAM SYARI'AT ISLAM

WAKAF DALAM SYARI'AT ISLAM

Secara bahasa, Ibnu Faris berkata, “‘و-ق-ف’ adalah kata dasar yang menunjukkan makna berdiam diri pada sesuatu.”

Al-Fayyumi berkata, “‘وَقَفَتِ الدَّابَّةُ تَقِفُ وَقْفًا وَ وُقُوْفًا’ artinya hewan tunggangan berdiam diri. Waqafat ad-dar artinya menahan rumah di jalan Allah.”

Al-Fairuzabadi berkata, “‘وَقَفَ يَقِفُ وُقُوْفًا’ artinya senantiasa diam. ‘وَقَفَ الدَّارَ’ artinya menahan rumah. Misalnya, ‘وَقَفَ الشَّيْءَ’ (menahan sesuatu). Maksudnya, menahannya sehingga tidak boleh dijual atau diwariskan. Ia dijadikan berada di jalan Allah.”

Ibnu Manzhur berkata, “‘وَقَفَتِ الدَّابَّةُ تَقِفُ وُقُوْفًا’ (Hewan tunggangan berdiam diri), ‘وَقَفْتُهَا أَنَا وَقْفًا’ (aku menahan hewan tunggangan), ‘وَقَفَ الْأَرْضَ عَلَى الْمَسَاكِيْنِ’ (Dia menahan tanah untuk orang-orang miskin).”

Secara istilah, Ibnu Qudamah berkata, “Wakaf adalah menahan asal dan menyalurkan hasil.”

Para ulama berbeda pendapat tentang pengertian wakaf secara istilah. Dari pengertian-pengertian yang ada ini, kami memilih pengertian yang menyatakan, “Wakaf adalah seorang pemilik yang memiliki kebebasan bertindak menahan hartanya yang bermanfaat dengan memutuskan haknya terhadap harta itu. Dia menyalurkan keuntungan dari hartanya kepada pihak amal sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah.” Ungkapan ‘memutuskan haknya terhadap harta itu’ menunjukkan bahwa wakaf bersifat kontinu. Maksudnya, kepemilikannya atas harta telah terputus. Syaikh ’Abdullah al-Jibrin berkata, “Wakaf keluar dari kepemilikan pewakaf. Dia tidak berhak untuk memintanya kembali. Dia hanya mendapatkan imbalannya selama harta wakaf itu dimanfaatkan.” Imbalan ini adalah pahala dari Allah.

Harta wakaf tetap dipertahankan dan dicegah dari sebab-sebab kepemilikan dengan memutus hak bertindak pemiliknya. Lalu manfaatnya dikelola untuk bidang-bidang amal yang ada.

Berdasarkan makna ini, Nabi Saw telah mendefinisikan wakaf ketika bersabda, “اِحْبِسْ أَصْلَهَا وَ سَبِّلْ ثَمْرَتَهَا” (Tahanlah asalnya dan salurkanlah hasilnya).

Kata waqf (wakaf) juga digunakan untuk menunjukkan harta yang diwakafkan. Bentuk jamaknya adalah awqaf. Seperti kata tsaub (baju), jamaknya adalah atswab.

Di sebagian kalangan ahli fikih, wakaf juga disebut dengan habs. Sebab, kata inilah yang muncul dalam syariat. Ulama lainnya menamakannya dengan waqf. Kedua kata ini merupakan sinonim.;; 

Secara bahasa, Ibnu Faris berkata, “‘و-ق-ف’ adalah kata dasar yang menunjukkan makna berdiam diri pada sesuatu.”

Al-Fayyumi berkata, “‘وَقَفَتِ الدَّابَّةُ تَقِفُ وَقْفًا وَ وُقُوْفًا’ artinya hewan tunggangan berdiam diri. Waqafat ad-dar artinya menahan rumah di jalan Allah.”

Al-Fairuzabadi berkata, “‘وَقَفَ يَقِفُ وُقُوْفًا’ artinya senantiasa diam. ‘وَقَفَ الدَّارَ’ artinya menahan rumah. Misalnya, ‘وَقَفَ الشَّيْءَ’ (menahan sesuatu). Maksudnya, menahannya sehingga tidak boleh dijual atau diwariskan. Ia dijadikan berada di jalan Allah.”

Ibnu Manzhur berkata, “‘وَقَفَتِ الدَّابَّةُ تَقِفُ وُقُوْفًا’ (Hewan tunggangan berdiam diri), ‘وَقَفْتُهَا أَنَا وَقْفًا’ (aku menahan hewan tunggangan), ‘وَقَفَ الْأَرْضَ عَلَى الْمَسَاكِيْنِ’ (Dia menahan tanah untuk orang-orang miskin).”

Secara istilah, Ibnu Qudamah berkata, “Wakaf adalah menahan asal dan menyalurkan hasil.”

Para ulama berbeda pendapat tentang pengertian wakaf secara istilah. Dari pengertian-pengertian yang ada ini, kami memilih pengertian yang menyatakan, “Wakaf adalah seorang pemilik yang memiliki kebebasan bertindak menahan hartanya yang bermanfaat dengan memutuskan haknya terhadap harta itu. Dia menyalurkan keuntungan dari hartanya kepada pihak amal sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah.” Ungkapan ‘memutuskan haknya terhadap harta itu’ menunjukkan bahwa wakaf bersifat kontinu. Maksudnya, kepemilikannya atas harta telah terputus. Syaikh ’Abdullah al-Jibrin berkata, “Wakaf keluar dari kepemilikan pewakaf. Dia tidak berhak untuk memintanya kembali. Dia hanya mendapatkan imbalannya selama harta wakaf itu dimanfaatkan.” Imbalan ini adalah pahala dari Allah.

Harta wakaf tetap dipertahankan dan dicegah dari sebab-sebab kepemilikan dengan memutus hak bertindak pemiliknya. Lalu manfaatnya dikelola untuk bidang-bidang amal yang ada.

Berdasarkan makna ini, Nabi Saw telah mendefinisikan wakaf ketika bersabda, “اِحْبِسْ أَصْلَهَا وَ سَبِّلْ ثَمْرَتَهَا” (Tahanlah asalnya dan salurkanlah hasilnya).

Kata waqf (wakaf) juga digunakan untuk menunjukkan harta yang diwakafkan. Bentuk jamaknya adalah awqaf. Seperti kata tsaub (baju), jamaknya adalah atswab.

Di sebagian kalangan ahli fikih, wakaf juga disebut dengan habs. Sebab, kata inilah yang muncul dalam syariat. Ulama lainnya menamakannya dengan waqf. Kedua kata ini merupakan sinonim.

 

 

Oleh : Sulaiman Bin Jasir Bin Abdil Karim Al - Jasir dalam Al-Waqf wa Ahkamuhu fi Dhaui asy-Syariah al-Islamiyyah

Copyrights © 2017 All Rights Reserved by Mizan Amanah.