Yatim dalam Islam | Mizan Amanah

Mutakhirkan

Yatim dalam Islam

Published by adminweb on Sab, 07/06/2019 - 09:00
Berbuat baik kepada sesama manusia merupakan suatu hal yang mulia dalam ajaran agama Islam. Tak terkecuali kepada anak-anak yatim. Siapakah yang disebut anak-anak yatim tersebut? Apa ciri-cirinya dan bagaimana cara kita memperlakukannya?
 
Kata "Yatim" merupakan kata yang berasal dari Bahasa Arab, yang memiliki arti sebagai anak yang telah ditinggal mati bapaknya dalam keadaan belum baligh serta dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Batas seorang anak disebut yatim adalah ketika anak tersebut telah baligh dan dewasa.
 
Ada sebuah hadits yang menceritakan bahwa Ibnu Abbas r.a. pernah menerima surat dari Najdah bin Amir yang berisi beberapa pertanyaan, salah satunya tentang batasan seseorang disebut yatim, Ibnu Abbas menjawab:
 
وكتبت تسألنى عن اليتيم متى ينقطع عنه اسم اليتم ، وإنه لا ينقطع عنه اسم اليتم حتى يبلغ ويؤنس منه رشد
( رواه مسلم )
 
Dan kamu bertanya kepada saya tentang anak yatim, kapan terputus predikat yatim itu, sesungguhnya predikat itu putus bila ia sudah baligh dan menjadi dewasa (HR. Muslim)
 
Didalam ajaran Islam, mereka mendapat perhatian khusus melebihi anak-anak lain yang masih memiliki seorang bapak. Islam memerintahkan umat Muslim untuk selalu memperhatikan mereka, berbuat baik, mengasuh dan mengurus mereka hingga dewasa.
 
Di dalam Islam juga terdapat penilaian istimewa bagi orang-orang yang dapat menjalankan kebaikan ini. Islam mengajarkan kita untuk terus menyayangi mereka dan melarang kita melakukan tindakan yang dapat menyinggung perasaan mereka.
 
Banyak ayat-ayat Al-qur’an dan Hadits Nabi yang menerangkan tentang hal ini. Salah satunya terdapat dalam surat Al-Ma’un, Allah SWT berfirman:
 
(( أرأيت الذي يكذب بالدين ، فذلك الذي يدع اليتيم ، ولا يحض على طعام المسكين ))
 
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin ”
{QS. Al-Ma’un : 1-3}
 
Orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan kepada fakir miskin disebut sebagai pendusta agama. Dan para pendusta agama kelak akan mendapat ancaman berupa api neraka.
 
Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman :
 
(( فأما اليتيم فلا تقهر ، وأما السا ئـل فلا تنهر ))
 
“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap pengemis janganlah menghardik”. (QS.  Ad-Dhuha : 9 – 10)
 
Sedangkan Hadits Nabi yang menerangkan tentang keutamaan mengurus anak yatim diantaranya adalah sebagai berikut :
 
أنا وكافل اليتيم فى الجنة هكذا وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئا
(رواه البخاري ، كتاب الطلاق ، باب اللعان )
 
Aku dan pengasuh anak yatim berada di Surga seperti ini. Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan beliau sedikit merenggangkan kedua jarinya.
 
Dan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi SAW bersabda :
 
عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” من قبض يتيما من بين المسلمين إلى طعامه وشرابه أدخله الله الجنة إلا أن يعمل ذنبا لا يغفر له  ( سنن الترمذي )
 
Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi SAW bersabda : Barang siapa yang memberi makan dan minum seorang anak yatim diantara kaum muslimin, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga, kecuali dia melakukan satu dosa yang tidak diampuni.
 
Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan dari Abu Hurairoh r.a. hadits yang berbunyi :
 
(عن أبي هريرة أن رجلا شكا إلى النبي صلى الله عليه وسلم قسوة قلبه فقال إمسح رأس اليتيم وأطعم المسكين (رواه أحمد )
 
Dari Abu Hurairoh, bahwa seorang laki-laki mengadu kepada Nabi SAW akan hatinya yang keras, lalu Nabi berkata: usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin
 
Dan hadits dari Abu Umamah yang berbunyi :
 
(عن أبى أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال من مسح رأس يتيم أو يتيمة لم يمسحه إلا لله كان له بكل شعرة مرت عليها يده حسنات ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم عنده كنت أنا وهو فى الجنة كهاتين وقرن بين أصبعيه (رواه أحمد )
 
Dari Abu Umamah dari Nabi SAW berkata: Barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim laki-laki atau perempuan karena Allah SWT, adalah baginya setiap rambut yang diusap dengan tangannya itu terdapat banyak kebaikan dan barang siapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan atau laki-laki yang dia asuh, adalah aku bersama dia di Surga seperti ini. Beliau mensejajarkan dua jarinya.
 
Ajaran yang mempunyai nilai sosial tinggi ini hanya ada dalam Islam. Bukan hanya kata-kata, tapi dipraktekkan langsung oleh para sahabat Nabi dan umat muslim sampai saat ini. Bahkan pada jaman Nabi SAW dan para sahabatnya, anak-anak yatim diperlakukan sangat istimewa. Kepentingan mereka diutamakan terlebih dahulu daripada kepentingan pribadi atau keluarga.
 
Demikianlah Islam memberikan kedudukan yang tinggi kepada anak yatim dengan memerintahkan umat muslim untuk berbuat baik dan memuliakan mereka. Kemudian memberi balasan pahala yang besar bagi yang benar-benar melakukannya, disamping mengancam orang-orang yang apatis tentang nasib mereka, apalagi semena-mena terhadap harta mereka.

Mari berbagi informasi yang insha Allah bermanfaat kepada rekan dan saudara kita. Semoga menjadi amal soleh yang membawa keberkahan untuk anda. klik tombol share di bawah ini.


Copyrights © 2019 All Rights Reserved by Mizan Amanah.