Mendidik Anak di Era Millenial | Mizan Amanah

Mutakhirkan

Mendidik Anak di Era Millenial

Mendidik di Era Millenial
Published by adminweb on Sab, 09/07/2019 - 10:41

Menjadi orang tua pada zaman milenial seperti saat ini terbilang cukup "menantang" dibandingkan dengan menjadi orangtua pada generasi sebelumnya. Pasalnya, pada zaman milenial ini perkembangan berbagai bidang bisa dikatakan cukup pesat. Hal tersebut memberi pengaruh besar pada berbagai hal, salah satunya tentang tumbuh kembang anak.

Kita ketahui bersama bahwa teknologi pada zaman sekarang ini setiap harinya berkembang dengan cepat. Dan anak-anak menjadi salah satu penerima perkembangan tersebut. Zaman dulu, anak-anak tidak kenal dengan yang namanya handphone, laptop, internet dan sejenisnya. Namun saat ini, semua itu seolah-olah sudah menjadi makanan pokok yang wajib dikonsumsi setiap hari.

Teknologi memberikan dampak positif dan negatif pada anak. Dampak positifnya adalah memberikan edukasi yang belum bisa kita berikan pada anak melalui media konvensional. Sedangkan dampak negatifnya adalah ketika anak sudah mulai kecanduan, mengeksplor banyak hal tanpa pengawasan dan sulit untuk melepasnya sehingga akan berimbas pada kesehatan fisik maupun psikisnya.

Seorang ahli teknologi dunia bernama Bill Gates mengatakan bahwa ia melarang anaknya menggunakan handphone di meja makan. Bahkan, Bill dan istrinya baru memberikan anak mereka handphone saat sudah berusia 14 tahun.

Seorang Bill Gates yang ahli teknologi ini saja membatasi anak mereka menggunakan teknologi. Lalu mengapa kita yang bukan ahli teknologi tidak memberi batasan anak bermain gadget? Dalam hal ini, orang tua perlu melakukan pengawasan dan batasan terhadap anak agar anak tidak kecanduan teknologi.

Berikut ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar anak tetap terjaga walau dilingkupi kemajuan teknologi.

Memperbaiki pola asuh
Keterlibatan kedua orang tua dalam mendidik anak sangat dibutuhkan dalam masa pertumbuhan anak. Kedua orang tua harus menjalin komunikasi yang baik dan intens untuk bersama-sama mendidik anak. Ayah yang terlibat dalam pendidikan anak akan membentuk rasa percaya diri yang tinggi dibandingkan ketika hanya ibunya saja yang mendidik.

Saat ini, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pendidikan anak lebih banyak dilakukan pertama oleh asisten rumah tangga, kedua ibu dan terakhir barulah hadir sosok ayah. Inilah hal yang harus dihindari dan diubah demi membentuk karakter anak yang lebih baik.

Menumbuhkan kecerdasan spiritual dan emosional
Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan". (QS. At-Tahrim: 6)

Dalam ayat tersebut ditekankan bahwa kita harus menjaga diri dan keluarga kita dari api neraka. Dan seperti yang kita ketahui bahwa neraka merupakan tempat bagi orang yang melanggar ketentuan Allah SWT. Dan dalam zaman seperti ini kita harus waspada terhadap sesuatu yang bisa menjerumuskan kita masuk kedalamnya. Salah satunya dengan membangun pondasi keimanan.

Pada masa awal pendidikan anak, orang tua harus menguatkan kecerdasan spiritual dan emosional sebelum kecerdasan rasional. Ketika kecerdasan spiritual dan emosional telah mengakar dalam diri anak, maka derasnya arus informasi yang dihadapi anak bukan menjadi masalah besar. Mereka sedikit demi sedikit akan mampu menghadapi dan memecahkan persoalan perilaku dan kehidupan dalam konteks yang lebih luas dan kaya. Namun tetap, kita sebagai orang tua tetap tak boleh lengah mengawasi anak.

Mari berbagi informasi yang insha Allah bermanfaat kepada rekan dan saudara kita. Semoga menjadi amal soleh yang membawa keberkahan untuk anda. klik tombol share di bawah ini.


Copyrights © 2019 All Rights Reserved by Mizan Amanah.